Mengajar Sehari di SD Dadi 4 Plaosan (Sekolah di Balik Awan), Candu Berbagi Kebahagiaan Untuk Tunas-Tunas Bangsa nan Rupawan

“Berjumpa, berinteraksi, berbagi cerita, bermain, bercanda denganmu adalah sebuah anugerah terindah dalam hidupku. Meski dalam satu hari saja...”  Ya..setidaknya hal itulah yang kurasakan, sesaat sesudah prosesi belajar mengajar di SD Dadi 4 Plaosan, Magetan telah usai. Bahkan masih banyak lagi ungkapan-ungkapan hati yang tak dapat terkatakan hanya lewat kata-kata saja. Well, the story begun....here we are...a great journey with Kelas Inspirasi Magetan!

Untuk kesekian kalinya, beribu rasa terimakasih dan syukur tak terhingga senantiasa tersampaikan kepada Allah SWT atas sebuah kesempatan istimewa yang telah diberikan, meski hanya cuma sehari. Yaitu dapat bergabung dan berproses indah bersama sahabat-sahabat seperjuangan yang begitu tulus dan sangat mempesona dalam merangkai itikad baiknya. Berbagi cerita tentang masing-masing profesi yang dijalaninya, dipersembahkan untuk para malaikat kecil kandidat generasi emas negeri ini.

Sebuah kado ulang tahun yang begitu indah ketika dapat bergabung bersama mereka semua dalam satu embrio gerakan sosial perubahan perwajahan pendidikan Indonesia ke arah yang lebih cemerlang. Karena ternyata hari H pelaksanaan mengajar sehari juga kok pas ndilalah bersamaan dengan hari kemunculanku di dunia, 29 September...hehe..Dan itu juga yang sama persis seperti yang kupikirkan pada saat mendaftar ikut seleksi tim volunteer pengajar di Kelas Inspirasi Magetan beberapa waktu lalu. Tidak lain ingin berkontribusi, berbagi cerita kepada tunas-tunas muda disana tentang profesi yang selama ini tidak bisa kulepaskan meski saat ini sudah hijrah ke kolam plat merah, yaitu jurnalis. Cita-cita sejak kelas 6 SD dulu kala yang terus kupupuk, pelajari secara persisten sampai pada akhirnya dapat kugenggam. Sah menjadi jurnalis (waktu itu posisi reporter) di salah satu tabloid ekonomi bisnis di kota Malang.

Selang beberapa waktu setelah pengumuman siapa-siapa saja yang beruntung lolos untuk bergabung di keluarga besar Kelas Inspirasi Magetan yang kemudian disambung dengan briefing, prosesi akbar Mengajar Sehari-pun dimulai. Taraaa.....senangnyaaa........hehe .

Sesuai dengan pembagian lokasi mengajar pada saat briefing, saya dan kedua teman sesama tim relawan pengajar, masing-masing mbak dosen Titis dan mbak periset marketing- Neser diplotting di SD Dadi 4 Plaosan. Berikut dengan para pejuang lainnya yang sangat membantu selama proses belajar mengajar disana. Mereka, mas Sagung, mbak Wahyu, mbak Nana dan adek mahasiswa yang sangat membanggakan kami semua yaitu dek Ajeng dan Claudia. Masing-masing berperan sebagai tim fasilitator dan fotografer yang selalu stand by dan on call kapanpun kami, para tim relawan pengajar membutuhkan. Kami benar-benar sebuah tim solid yang tahan banting dan tetap merasakan euforia kegembiraan sangat selama proses belajar mengajar berlangsung. Saling membantu, men-support dan menyemangati dengan masing-masing keahlian.

Perjalanan lumayan jauh yang harus kutempuh dari Yogyakarta-Magetan dengan rute transit sana-sini-pun serasa begitu dekat di pelupuk mata. Semuanya demi bisa bertemu dengan wajah-wajah mungil calon agent of change negeri ini yang harus segera ditulari virus-virus semangat pembelajar tangguh. Berbekal tas ransel hitam-biru kesayangan yang berisi ‘peralatan perang’ (materi ajar, kado2 kecil & bermacam gula manis untuk siswa-siswi SD Dadi 4), langkahku terasa begitu ringan untuk sekedar ingin menyapa dan menjadi bagian dari mereka. Meski hanya satu hari saja. Tapi yang kurasakan, seolah berkesempatan bersama mereka selama seminggu lamanyaa.....hehe.. Ini karena, begitu dekat & intensnya kami selama proses belajar mengajar yang relatif super singkat itu membuat waktu seakan berputar sangat lambat. Ikatan emosional yang terjalin pada hari itu, Senin 29 September 2014 sangat kuat. Bahkan terkesan terlalu dini untuk ukuran rotasi waktu yang masih hanya berjalan setengah hari.

Ya, setengah hari. Tapi keterbatasan waktu bersama semua penghuni sekolah tersebut justru terasa lama karena kami begitu menikmati setiap detik yang amat berharga jika dilewatkan begitu saja. Kecuali dengan ikut menyelam di dalamnya, berdansa larut dalam kegembiraan batin bersama ‘anak-anak gunung’ dibukit Plaosan. Setengah hari efektif cukuplah bagi kami untuk mengenal singkat beragam ekspresi wajah-wajah lugu bersemangat yang tertangkap dalan binar sorot tajam mata mereka. Berharap bisa mendapatkan sedikit saja guyuran oase gambaran profesi masing-masing yang kami ceritakan untuk kemudian dijadikan panduan penunjuk arah cita-cita dalam dirinya kelak.

Masih hangat dalam ingatan saat berdiri di antara barisan upacara bendera bersama seluruh penghuni sekolah, tepat pukul 7 pagi waktu itu. Seumur-umur belum pernah jadi pembina upacara, pagi itu ternyata harus menerima tantangan & kesempatan langka tersebut. Posisi di tengah-tengah barisan-pun makin memudahkan untuk melihatlebih dekat, wajah-wajah malaikat kecil dengan kepolosannya. Bahkan sesekali mencuri pandang ke arah barisan siswa-siwi kelas 1 yang selalu tidak bisa berdiri manis dengan bermacam polah hiperaktif mereka yang memang masih dalam fase senang-senangnya bermain dan bereskplorasi. “Aiih...lucu-lucu dan semangatnya anak-anak ini...Begitu manis dan hiperaktif..hehe..”, batinku saat itu.

Sukacitaku makin meruah ketika mulai estafet masuk ke masing-masing kelas dalam estimasi waktu yang serba bergerak cepat. Hanya sekitar 30 menit alokasi waktu mengajardi 3 grup kelas besar (gabungan kelas 1-2, 3-4 & 5-6). Kelas pertama yang kuajar, gabungan dari kelas 3 & 4 berhasil kulalui dengan lancar dan meriah. Dengan metode pembelajaran story telling, bagi-bagi kado kecil dan gula-gula, mereka kuajak serta larut di dalam kesenangan profesi jurnalis/ wartawan dengan bahasa yang se-simple mungkin, disertai dengan contoh konkrit.
(Foto: Dokumentasi KI Magetan - SDN Dadi 4)
  
 Alat peraga seperti globe yang sengaja kupinjam dari Bapak Kepala Sekolah - Pak Suwignyo sehari sebelumnya melalui perantara Mas Sagung, LCD, album foto dokumentasi aktifitas reportase-ku selama kurun waktu tugas 2009-2014 terbukti sangat efektif membantuku dalam memasukkan kosakata profesi wartawan yang bisa jadi menjadi sesuatu yang benar-benar baru bagi mereka. Tentu saja, melalui kontak mata, flow alur cerita, kedekatan emosional & interaksi yang tetap terjaga selama sekitar 40 menit berproses di dalam kelas semakin memeriahkan suasana keceriaan dan membangkitkan minat belajar anak-anak manisku itu.
(Foto: Dokumentasi KI Magetan - SDN Dadi 4)
Melalui binar dan pancaran mata beningnya yang selalu terfokus pada apa yang kusampaikan di depan & berkeliling kelas, aku bisa mengetahui pasti betapa mereka begitu tertarik dengan gambaran profesi yang kuceritakan itu. Gambaran itu semakin jelas ketika kuminta dua diantara siswa-siswi untuk maju di depan kelas untuk mempraktekkan wawancara sederhana dengan topik yang sudah kupilihkan sebelumnya. Berbekal aplikasi easy voice recorder di hp Experia-ku, mereka-pun bergitu enjoy menikmati peran singkatnya sebagai reporter dan narasumber yang saling bersinergi. Applaus meriah, gelak-tawa dan riuh rendah suasana di kelas semakin membuat mereka, anak-anakku yang berperan sejenak sebagai reporter cilik dan penyanyi cilik itu semakin atraktif dan bereksplorasi dengan masing-masing style wawancara yang mereka ciptakan sendiri. Khas gaya anak-anak cerdas & tangkas yang selalu responsif terhadap materi & kesenangan barunya. Terlebih ketika hasil rekaman wawancara yang telah mereka praktekkan itu kuputar keras-keras di depan kelas. Wah-wah...mereka sangat antusias mendengarkan dengan seksama hasil perbincangan kedua temannya lho? Bahkan ketika kuminta lebih mendekat ke arah sumber suara, mereka langsung merangsek maju mendekatiku dan mendengarkan lekat-lekat hasil rekamannya.

Wow...sungguh betapa moment-moment tersebut sangat menyenangkan bagi kami semua yang larut di dalam sebuah kesenangan tak terkira. Perpindahan jam mengajar di kelas rombongan belajar berikutnya-pun tidak luput dari hiruk-pikuk spirit terbarukan dari seluruh penghuni kelas. Sesuai jadwal, sesi kedua-ku diharuskan mengajar di kelas 1-2. Dan syukurlah...ternyata apa yang sebelumnya sempat kubayangkan tidak terjadi. Anak-anakku yang masih tergolong ‘baby’ ini begitu manis dan menyenangkan lho..? Mereka cukup kooperatif dan penurut di dalam kelas dan mengikuti apa yang kuinstruksikan. Treatment pola mengajar yang spesial untuk mereka ternyata sangat tepat & efektif diterapkan untuk menaklukkan fokus dan perhatiannya selama proses belajar mengajar berlangsung.

Masa bermain dan berekspresi yang masih sangat melekat pada diri mereka kumanfaatkan betul untuk mengajaknya bermain, bernyanyi, memberikan stimuli untuk berani tampil ke depan, dengan iming-iming kado kecil dan gula-gula yang sudah kusediakan pastinya..hehe...
(Foto: Eka)
Kami-pun terlarut dalam kegembiraan ketika bernyanyi bersama. Bintang Kecil, Kasih Ibu dan Naik Delman adalah ketiga lagu hasil download-an yang sudah kupersiapkan sebelumnya untuk dinyanyikan rame-rame di kelas. Aih...semangatnya mereka ketika kuajak bernyanyi dengan bantuan LCD milik sekolah.. :) Ending-nya, ketika acara menyanyi anak-anak manisku yang begitu semangat menyanyikan ketiga lagu dengan suara lantang bahkan sampai direpetisi 3 kali tersebut sudah selesai, maka langsung kubelokkan ke pengenalan cita-cita mereka kelak. Lagu Bintang Kecil kugunakan menjadi kata pengandaian dalam mewujudkan cita-cita setinggi langit. Tentunya semuanya kusampaikan dalam bahasa yang mudah dipahami anak. Lagi-lagi binar bening mata dan antusiasme yang kudapatkan dari wajah-wajah mungil mereka.

Hal itu juga yang kudapati pada wajah-wajah kakak seniornya, yaitu kelas 5-6 yang tiba gilirannya kuajak serta terbang ke angkasa, menjemput impian dan cita-cita indah masing-masing. Nah, khusus treatment bagi anak-anakku yang ini agaknya jauh lebih memudahkan dalam memilih metode belajar yang juga sudah disiapkan jauh-jauh hari sebelum hari-H..hehe...Karena fase mereka sudah mulai bisa kuajak memasuki gerbang cara berpikir kritis dalam memandang apa itu yang dinamakan cita-cita dan impian hidup. Dan benar saja. Ketika kulemparkan pertanyaan tentang apa itu wartawan (khusus pengenalan pembaca berita & reporter dulu), spontan banyak diantara mereka yang langsung memberikan feedback. Menjawab dengan lugas dan penuh energi yang didahului dengan mengacungkan tangan. Berebut menjawab beragam pertanyaan yang sengaja kulontarkan, berikut kusertai dengan kado-kado kecilku. Spesial kubagi buat mereka semua, anak-anakku sayang yang begitu merona wajah-wajah lugunya ketika memperhatikan, berinteraksi dan bercakap dengan penuh ekspresif dan senyum keceriaan. Ah..subhanallah...indah nian saat itu...:)

Dan karena mereka sudah mampu mencerna dari materi bahan ajar yang kusampaikan, maka tidak sulit juga bagiku untuk menularkan virus-virus tentang bagaimana serunya jika mereka kelak menjadi wartawan. Dengan sedikit cerita-cerita seru bergambar-dokumentasi aktifitas reportase-ku (kupilih secara random, mulai tahun 2009-2014 sebelum aku memilih lebih fokus ke aktifitas belajarku di pascasarnaja Ilmu Komunikasi Universitas Gadjah Mada), kuajak mereka ikut menari di dalamnya. Menyelami samudera impian yang tidak sekedar impian dalam mimpi-mimpi indah mereka. Tapi sebuah impian berisi cita-cita dan harapan agar lebih dekat dan mengenal apa itu profesi jurnalis. Sekaligus sebagai testimoni pribadi, betapa sejak kelas 6 SD, aku begitu ingin menjadi seorang wartawan. Dan...sujud syukurku kepada Allah SWT yang akhirnya benar-benar mengabulkan segala doa & harapanku itu...10 tahun kemudian, tepatnya ketika aku berusia 22 tahun, di kala menunggu prosesi wisuda kelulusan S1 di Universitas Muhammadiyah Malang. Menjadi seorang reporter di salah satu tabloid bisnis di kota Malang, kemudian hijrah ke bidang perbankan sebelum akhirnya memilih kembali menemukan passion-ku itu dengan menjadi the real journalist di Suara Surabaya Media sebagai announcer, gate keeper (news writer) sekaligus producer yang selalu tersinergikan dalam tuntutan serba multitasking di setiap detiknya...hehe :)

Kebahagiaan tak terkira itu juga yang kubagikan kepada mereka, tunas muda para calon pemimpin negeri ini. Dengan kosakata yang mudah dipahami untuk usia mereka, kusampaikan dalam bentuk cerita jika ingin menggenggam dunia dengan segala isinya, profesi yang tepat adalah dengan menjadi seorang jurnalis yang smart dan tangguh. Selalu adaptif mengikuti perkembangan jaman. Respon balik yang kudapatkan (lagi-lagi kutangkap dari sorot mata penuh penasaran pertanda selalu ingin maju & berani bermimpi) dari anak-anakku saat itu begitu indah nian. 
(Foto: Dokumentasi KI Magetan - SDN Dadi 4)
Mendapati wajah-wajah lugu yang berbinar cerah merupakan sebuah harapan baru bagiku. Bahkan pemandangan indah itu sebagai oase tak terperi yang justru menginspriasiku agar lebih konsisten dan terpacu untuk dapat berkarya terbaik. Untuk itu aku sangat bersyukur karenanya. Bisa menjadi saksi hidup, betapa mereka sangat merindukan pendamping mimpi-mimpinya yang akan selalu didekap sepanjang hidupnya. Bersama doa restu orang-orang terkasih di sekitarnya.

Sebagai klimaks dari agenda mengajar sehari, tim fasilitator Kelas Inspirasi Magetan yang selalu mendampingi kami-pun telah menyediakan sekitar 30-an balon warna-warni. Siap diterbangkan membawa serta kertas-kertas impian yang bertuliskan cita-cita masing-masing penghuni kelasnya.

(Foto: Dokumentasi KI Magetan - SDN Dadi 4)

Suka-cita, riuh-rendah, gelak-tawa dalam harmoni kebahagiaan terpancar dari aura anak-anak di kaki gunung Lawu itu. Satu hal yang semakin membuatku terharu pada saat detik-detik pelepasan balon cita-cita itu adalah ketika menjumpai sebuah balon merah dengan tempelan kertas cita-cita berwarna kuning, “Rafi Ingin Menjadi Wartawan” yang direpetisi sampai 3 kali penulisan. Subhanallah...waktu itu rasanya bahagiaaa...sekali. Jika seandainya kelak dikemudian hari cita-citanya berubah seiring dengan waktu, minimal Rafi, satu diantara anak-anakku di SD Dadi 4 Plaosan Magetan itu telah berhasil memahami apa itu profesi wartawan yang tertanam di benaknya. Syukur-syukur kalau akan selamanya terekam dalam memorinya untuk dijadikan sebagai cita-citanya nanti. Semoga.
(Foto: Dokumentasi KI Magetan - SDN Dadi 4)
(Foto: Dokumentasi KI Magetan - SDN Dadi 4)
Horeee...akhirnya puluhan balon warna-warni bertabur impian-pun dilepaskan di atas bukit. Tepat di depan halaman sekolah mereka yang memang lokasinya terletak di pucuk bukit. Sekolah mungil di balik awan, itu julukan sayangku pada “taman belajar & bermain” tersebut. Sorak-sorai-pun menggema di celah-celah tebing curang, diatas pijakan mereka berdiri ketika melepas balon-balonnya.
(Foto: Dokumentasi KI Magetan - SDN Dadi 4)
Lambaian tangan, doa dan harapan-pun tak luput dari aktifitas mereka sepanjang menit-menit yang bisa jadi tak akan terlupakan dalam hidupnya. Sebuah titik pengharapan dimana mereka menghirup udara kebebasan berekspresi di fase bermain & bereksplorasi tanpa batas. Menembus cakrawala untuk pergi bersama balon-balon impian masing-masing. Menggantungkan asa, doa dan keinginannya agar bisa menjemput impian indahnya kelak. Suatu hari nanti.

Dan kami-pun tersenyum riang melihat ragam tingkah-polah lucu mereka. Sembari turut serta menikmati pelangi euforia kegembiraan yang mewarnai perjalanan hidup kami semua pada saat itu. Ya, Senin tanggal 29 September 2014. Hari dimana aku diberi kesempatan untuk bergabung menjadi bagian keluarga besar Kelas Inspirasi Magetan untuk sekedar berbagi cerita & meretas impian bersama para calon pendobrak gerakan perubahan bangsa. Mengenalkan ragam profesi diluar gambaran dan kebiasaan lingkungan sekitar yang diamati oleh titipan Tuhan ini. Meski hanya sehari, tapi kebersamaan dan sense of belonging berada di tengah-tengah mereka serasa candu berbagi kebahagiaan untuk mereka, tunas-tunas bangsa nan rupawan. Terimakasih anak-anakku, terimakasih Kelas Inspirasi Magetan. I’m so proud of you, guys!



Eka Maria Ulfa
Relawan Pengajar Kelas Inspirasi Magetan
SDN Dadi 4 Kec. Plaosan Kab. Magetan
Previous
Next Post »

1 komentar:

Click here for komentar
RU's JOURNAL
admin
October 13, 2014 at 7:11 AM ×

Saya kenal Eka, masih ingat ketika dia menghubungi saya dan betapa girangnya ketika lolos seleksi di kelas inspirasi. Eka layak karena dia sangat menginspirasi dengan prestasi ketekunan dan passionnya. Eka sangat passionate pada bidang jurnalistik. Sejak mengenal Eka di semester 2 di kampus kami belajar dulu, meski setelah lulus kuliah sempat bekerja dibidang yang berbeda sebelum akhirnya dia bisa mewujudkan keinginannya sebagai jurnalis Eka she loves journalism, dan Eka dia bukan tipe orang yang mudah menyerah. selamat ya Eka. Inshaa allah ilmu yang telah kamu bagi kemarin akan bermanfaat untuk mereka "Tunas tunas bangsa nan rupawan".

Congrats bro RU's JOURNAL you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar

Kelas Inspirasi

Berhenti mengeluh tidaklah cukup.

Berkata-kata indah dengan penuh semangat juga tidak akan pernah cukup.

Semua orang dapat turut ambil bagian dalam gerakan ini.

Lakukan aksi nyata.

Sekarang.

(Indonesia Mengajar)