Nyala Inspirasi

Sumi masih berkutat dengan buku-bukunya. Mengarahkan jari telunjuk pada baris-baris kalimat, dan menuntun kedua matanya agar tetap pada pentunjuk telunjuknya yang mungil. Sebuah lampu minyak yang berada tepat di samping tumpukan buku adalah satu-satunya penerangan di bilik rumah kecilnya, di Sirnabaya, Karawang. Lampu yang membuat senyum anak SD kelas 6 itu semakin terlihat sembab.


Agak ironis ketika pertama kali berkunjung ke desanya, lebih tepatnya ke sekolahnya. Dari jalan tol Jakarta-Cikampek aku beserta kawan-kawan menuju ke Kawasan Industri besar di Karawang, KIIC namanya. Berbagai pabrik multi nasional dan international memenuhi blok-blok di sepanjang jalan yang kami lewati sampai ujung. Dan di ujung jalan itulah, desa kecil Sumi berada. Sebuah perbukitan terjal milik Perhutani. Desa terpencil dan terpinggirkan tanpa ada akses listrik. Sebuah ironi.


Di akhir perjumpaan kami dengan Sumi dan kawan-kawannya, kami mengajak mereka untuk menuliskan mimpi-mimpinya. Dan dengan gemetar ia tuliskan, "Pergi ke Canada". Sambil menampakkan senyum datar. Senyumnya selalu seperti ditahan. Entah karena apa.


Di malam-malam, ia kembali pada tumpukan bukunya. Menyalakan lampu minyak dan ingin mendekatkan jarak pada mimpi-mimpinya. Tak mudah bagi ia dan keluarga kecilnya yang masih serba kekurangan. Apalagi untuk sebuah negeri Canada.


Terkadang ia goyah. Seperti lampu minyak yang begitu mudah padam. Bahkan oleh hembusan nafasnya sendiri. Secepat kilatan cahaya pula, ia tangkupkan kedua telapak tangannya di hangat pendar lampu minyaknya. Menjaga agar nyalanya tak terpecah belah. Tak dibiarkannya untuk mati.


Terus belajar dan bekerja keras agar mimpinya tak lagi redup.


..............


Di satu sudut bumi yang lain ada juga yang sedang tergopoh-gopoh dengan jalannya. Tak mudah memang menegakkan dirinya di bumi yang sedang apatis. Di dalamnya orang-orang lebih banyak memilih diam di zona nyaman. Tak mudah menyalakan kilau semangat gerakan ini ke lebih banyak orang. Tapi, apalah jua jika hanya berpangku tangan dan menanti diam?


Bukankah lebih baik kita turun tangan dan ambil bagian?


Pendar inspirasi gerakan Kelas Inspirasi Megetan sudah dinyalakan sejak 29 September 2014 lalu, atau bahkan dari beberapa bulan sebelumnya. Dan kini butuh lebih banyak tangan untuk menjaga pendar nyalanya agar selalu hidup. Lebih banyak tenaga untuk mendorong apatisme menjadi bentuk kepedulian setiap tangan di seisi bumi Magetan.


Jangan sampai mimpi dari kita yang sudah beberapa jumlahnya ini, kalah dengan mimpi seorang Sumi yang sejauh negeri Canada.


Jangan sampai warna oranye yang sudah kita semai menjadi redup, bahkan mati. Semoga warna dan semangat baru yang kita mulai dan bawa ini, menjadi salah satu pembaharu kota ini. Penyambung para profesional dan generasi-generasi seumuran di kelas-kelas sekolah. Untuk seterusnya


Mari, jinggakan terus bumi Magetan.



(@fredy_ae)
Previous
Next Post »

Kelas Inspirasi

Berhenti mengeluh tidaklah cukup.

Berkata-kata indah dengan penuh semangat juga tidak akan pernah cukup.

Semua orang dapat turut ambil bagian dalam gerakan ini.

Lakukan aksi nyata.

Sekarang.

(Indonesia Mengajar)

×
Kelas Inspirasi Magetan