Hari yang Kami Nanti-nantikan Pun Tiba, SDN Petungrejo We’re Coming

"It’s show time", begitulah kira-kira saya berteriak dalam hati ketika pertama kali membuka mata di hari Senin tanggal 30 Maret 2015. Saya bangun pagi-pagi sekali bahkan sebelum adzan subuh berkumandang, tepatnya pukul 03.30 WIB. Yahhh benar sekali, saya hanya tidur malam selama tidak lebih dari 3 jam. Tapi entah mengapa ada energi yang besar yang mendorong saya untuk langsung bangun ketika mendengar alarm berbunyi, dan seketika itu pula rasa kantuk sudah pergi dari mata saya.

Saya langsung bergegas pergi mengambil baju dan kerudung yang sudah saya siapkan untuk saya kenakan di Hari Inspirasi. Lantas saya menyetrika keduanya hingga benar-benar menjadi rapi. Setelah selesai, saya langsung buru-buru ke kamar mandi. Ahhh gila sekali, tidak biasanya saya mandi pukul 03.45 pagi. Apalagi ini Magetan, ahhh dinginnya air pagi itu tak menyurutkan langkah saya untuk segera mempersiapkan diri agar bisa segera berangkat menuju SDN Petungrejo, Nguntoronadi.

Setelah mandi saya persiapkan baik-baik segala keperluan dan memasukkannya ke dalam tas, mulai dari name tag, spidol, piring plastik, puzzle untuk game. Jangan sampai ada yang tertinggal pikir saya. Setelah selesai semua persiapan, akhirnya saya memutuskan untuk duduk di depan rumah sambil menunggu Esti, mbak Rahma, dan mas Nanang, dan bunda Hetty datang. Yahhh kami memang janjian untuk berangkat bersama menuju SDN Petungrejo.

Seperti biasa, jamnya agak sedikit ngaret. Dari rencana awal kami berangkat pukul 06.00 tepat menuju SD, barulah pukul 06.20 kami berangkat. Jadilah kami sampai di SDN Petungrejo pukul 7 kurang. Kami tidak jadi melakukan persiapan acara, karena bell tanda masuk sekolah sudah berbunyi.


Benar-benar bernostalgia dengan masa-masa SD, saya ikut jadi peserta upacara. Saya jadi teringat moment-moment saat saya dulu jadi petugas upacara. Dan jadilah saya hanya tersenyum-senyum sendiri melihat anak-anak yang menjadi petugas upacara. Ahhhh, mungkin 10 tahun yang lalu saya juga selucu mereka, begitu pikir saya.


Foto: Dokumentasi KI Magetan #2 - SDN Petungrejo (FG: Nanang Wahyudianto)

Setelah selesai upacara, barulah tim fasilitator mengambil alih jalannya acara pagi itu. Hal pertama yang kami lakukan adalah ingin mengajak mereka bersenang-senang terlebih dahulu sebelum mereka masuk ke kelas dan memulai sesi kelas inspirasi. Akhirnya kami mengajak seluruh anak untuk maju dan berkumpul di lapangan bagian depan. Pemanasan kami buka dengan mengajak makhluk-makhluk kecil nan lucu itu ber-pingiun dan ber-chicken dance. Dengan dipandu oleh kakak-kakak fasilitator, mereka begitu asyik mengikuti gerakan kami dan alunan musik yang ada. Tak lupa kami pun mengajak seluruh bapak-ibu guru dan juga relawan pengajar untuk ikut serta bergoyang bersama dipagi hari yang cerah itu. Beberapa menit ber-pinguin ria, sudah cukup membuat kami semua meneteskan keringat dan juga tertawa selepas-lepasnya. Benar-benar pagi yang sangat indah bersama seluruh siswa SDN Petungrejo ?


Foto: Dokumentasi KI Magetan #2 - SDN Petungrejo (FG: Nanang Wahyudianto)



Tak berhenti sampai disitu aktivitas di lapangan kami. Setelah selesai nge-dance (hehehe), tibalah saatnya melakukan permainan untuk membagi kelompok. Dan kebetulan sayalah PJ untuk acara permainan ini. Ehmmm rasanya “sesuatu banget”, pengalaman pertama berdiri di depan ratusan anak SD, mengajak mereka untuk memiliki semangat yang besar dipagi hari ini. Permainan yang saya berikan untuk mereka adalah menyusun puzzle yang sudah saya buatkan malam sebelumnya. Dalam puzzle-puzzle tersebut ada sebuah nama planet yang akan menjadi nama untuk kelompok mereka, dan juga ada sebuah kata yang akan menjadi jargon mereka.


Foto: Dokumentasi KI Magetan #2 - SDN Petungrejo (FG: Nanang Wahyudianto)

Dengan penuh semangat saya mengarahkan seluruh adik-adik kecil saya ini untuk membentuk empat kelompok. Kelompok pertama terdiri dari kelas 1 dan 2, kelompok 2 kelas 3, kelompok 3 kelas 4, dan kelompok 4 kelas 5. Ya kami membagi mereka ke dalam 4 kelompok, karena dirombel 15 ada empat relawan pengajar. Dan saya mulai memaggil satu-persatu ketua kelas mereka untuk menggambil puzzle yang sudah saya acak untuk mereka susun. Beginilah kira-kira isi masing-masing puzzle itu :
-    Mars, dengan jargon berani maju
-    Venus, dengan jargo pekerja keras
-    Jupiter, dengan jargon berani jujur
-    Neptunus, dengan jargon pantang menyerah


Foto: Dokumentasi KI Magetan #2 - SDN Petungrejo (FG: Nanang Wahyudianto)



Kami memberikan mereka nama kelompok yang berhubungan dengan benda-benda langit, dengan harapan mereka bisa memiliki cita-cita setinggi langit. Dan kami berikan mereka jargon yang demikian agar mereka bisa memiliki karakter-karakter yang akan membawa membantu mereka mewujudkan mimpi-mimpi yang mereka miliki. Semoga saja adik-adikku di SDN Petungrejo senantiasa mengingat moment dipagi hari itu.


Ketika sesi Kelas Inspirasi dimulai, kebetulan saya mendampingi kelas 1 dan 2. Ohhh Ya Allah, pengalaman yang luar biasa sekali bersama mereka. Yahhh, mereka benar-benar masih anak kecil. Polah tingkah mereka yang sulit dikendalikan, teriak-teriak, berlarian kesana kemari. Dan kelas saat itu lebih tepat saya bilang seperti taman kanak-kanak. Tapi justru disinilah sensasinya, saya jadi bisa belajar mengendalikan mereka saat relawan pengajar kesulitan mengendalikan kelas. Namun untungnya kami memiliki relawan pengajar yang super-duper hebat, Bunda Hetty, Mas Agung, Mbak Ria tampak tidak terlalu kesulitan untuk mengendalikan kelas 1 dan 2.



Foto: Dokumentasi KI Magetan #2 - SDN Petungrejo (FG: Nanang Wahyudianto)

 
Moment lainnya yang paling saya ingat ketika hari inspirasi adalah saat jam istirahat, ketika semua makhluk-makhluk kecil itu keluar kelas dan bermain-main ataupun sekedar membeli jajan. Saya lebih memilih untuk keluar dari ruang guru dan membaur dengan mereka. Salah satunya saya berkenalan dengan adik kecil saya yang bernama Nanang. Saat kami berkenalan, dia langsung menyebutkan nama lengkapnya “Nanang Komarudin”. Ahhhh adik kecil ini begitu lucu sekali pikir saya. Lantas kami mengobrol banyak hal, mulai dari apakah dia sudah mandi, mandi sendiri atau dimandikan, berapa kali gosok gigi dalam sehari, sampai akhirnya Nanang menceritakan kondisi keluarganya. Dia bilang tinggal bersama nenek dan kakeknya, sehingga harus mencuci bajunya sendiri. Ayah dan ibunya tinggal di Pasuruan, dan Nanang merupakan anak tunggal. Seketika itu saya membayangkan jika saya dulu seusia Nanang dan tidak tinggal dekat dengan keluarga saya bagaimana ya perasaan saya. Mungkin saja sedih, mungkin juga kesepian, mungkin juga menyimpan berjuta-juta rasa rindu pada kedua orang tua. Ya… mungkin saja itulah yang sedang dirasakan oleh Nanang. Terima kasih dek atas obrolan singkat yang cukup membuat kakak merasa begitu dekat denganmu. 


Foto: Dokumentasi KI Magetan #2 - SDN Petungrejo (FG: Nanang Wahyudianto)



Bel tanda masuk pun sudah kembali berbunyi. Dan adik-adik kecil kami pun mulai berlarian masuk ke dalam kelas untuk kembali menyerap inspirasi dari para relawan pengajar. Sementara kami para fasilitator tetap berada di lapangan untuk mempersiapkan acara closing. Kami mulai dengan menyiapkan kain yang akan menjadi tempat kami semua menunjukkan pada dunia mimpi-mimpi kami. Lalu tak lupa menyiapkan cat yang berwarna-warni yang menggambarkan bertapa mimpi kami begitu indah selayaknya sebuah pelangi.


Foto: Dokumentasi KI Magetan #2 - SDN Petungrejo (FG: Nanang Wahyudianto)



Tanpa kami sadari satu persatu adik kecil kami mulai keluar dari kelas dan melihat apa yang kami lakukan. Mereka begitu antusias untuk menyaksikan kami sedang mengaduk-aduk cat dan memadukan warna agar menjadi indah. Dan tibalah saat-saat yang mungkin tak akan pernah kami dan adik-adik kecil itu lupakan, yakni acara closing. Kami mengajak seluruh adik-adik SDN Petungrejo membuat cap telapak tangan mereka menggunakan cat dan menempelkannya pada kain putih yang telah dipersiapkan, dibawah cap tangan masing-masing anak ditulislah nama serta cita-cita mereka. Yang makin membuat moment itu terasa sensasional (memberikan sensasi yang luar biasa) bagi saya adalah diputarnya lagu “Laskar Pelangi” saat satu persatu makhluk kecil dari SDN Petungrejo itu menjejakkan cita-cita mereka. Mengumumkan pada dunia apa cita-cita mereka kelas. 

Ahhh rasanya luar biasa sekali, hingga tanpa sadar baju, celana, dan kerudung saya terdapat banyak sekali noda cat. Noda-noda cat yang saya dapatkan ketika membantu adik-adik kecil saya menuliskan cita-cita mereka. Awalnya saya sempat histeris melihat calana saya sudah berubah menjadi seperti warna pelangi, tapi tak apalah pikir saya. Jika memang noda-noda ini tak bisa hilang, maka akan saya jadikan kenangan terindah yang diberikan oleh adik-adik kecil saya di SDN Petungrejo.


Foto: Dokumentasi KI Magetan #2 - SDN Petungrejo (FG: Nanang Wahyudianto)



Terima kasih banyak untuk SDN Petungrejo atas semangat yang kalian tunjukkan selama seharian ini. Semangat yang memberikan saya energi luar biasa untuk mengabaikan lelah yang dirasakan oleh tubuh saya. Semangat yang tak akan pernah bisa saya lupakan dalam perjalanan hidup saya. Semangat yang akan saya selalu simpan baik-baik sebagai kenangan terindah dari kalian. Terima kasih untuk satu hari yang luar biasa, satu hari penuh pembelajaran, satu hari penuh makna. I’ll always miss you all my little brother and sister from SDN Petungrejo, Nguntoronadi.


Foto: Dokumentasi KI Magetan #2 - SDN Petungrejo (FG: Nanang Wahyudianto)




Tulisan :
  Anggun K. Dewi
  Relawan Fasilitator Kelas Inspirasi Magetan #2
  Rombel15: SDN Petungrejo, Kecamatan Nguntoronadi, Kabupaten Magetan
Previous
Next Post »

1 komentar:

Click here for komentar
April 5, 2015 at 8:38 PM ×

kereen banget. ikut terpinspirasi baca cerita dari mbak anggun. keep spirit, salam inspirasi. (h)

Congrats bro khrisna aprianto you got PERTAMAX...! hehehehe...
Reply
avatar

Kelas Inspirasi

Berhenti mengeluh tidaklah cukup.

Berkata-kata indah dengan penuh semangat juga tidak akan pernah cukup.

Semua orang dapat turut ambil bagian dalam gerakan ini.

Lakukan aksi nyata.

Sekarang.

(Indonesia Mengajar)